Posted on Leave a comment

Pengertian zakat fitrah

Ilustrasi zakat fitrah

Berzakat.id – Sebagai umat muslim, kita tentu tidak asing lagi dengan istilah zakat fitrah. Zakat yang wajib dikeluarkan setiap hari raya idul fitri oleh semua orang islam tanpa terkecuali. Baik yang masih kecil atau dewasa, laki-laki maupun perempuan, merdeka atau hamba, diwajibkan untuk membayar zakat fitri. Meskipun begitu, tetap ada beberapa syarat wajib zakat yang telah diatur dalam Islam untuk memudahkan umatnya berzakat fitrah.

Dari Ibnu Umar. Ia berkata, “Rasulullah SAW. mewajibkan zakat fitri di bulan ramadhan sebanyak satu sa’ (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Zakat fitrah di Indonesia, dibayarkan dalam bentuk makanan pokok beras seberat 2,75 – 3 kg atau uang yang setara dengan harga beras seberat itu. Pembayarannya dilakukan selama bulan ramadhan, namun ada beberapa ulama yang menyarankan untuk membayar zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.

Penyaluran zakat fitrah sendiri beragam, beberapa orang memilih untuk menyalurkannya secara langsung kepada saudara terdekat yang membutuhkan atau menitipkannya kepada amil zakat di daerah masing-masing. Di Indonesia sendiri sudah banyak badan amil zakat yang mewadahi umat muslim untuk menyalurkan zakat fitrah kepada muslim yang berhak menerima.

Zakat fitrah tidak diberikan kepada sembarang orang, ada beberapa kriteria orang yang berhak menerima zakat yang perlu kita perhatikan. Salah satunya adalah orang fakir miskin.

Wallahua’lam bishawab

Disadur dari buku Fiqh Islam karya H. Sulaiman Rasjid

Posted on Leave a comment

Apa pengertian dan pentingnya zakat?

Berzakat.id – Sebagai ummat Islam, kita sudah tidak asing lagi dengan istilah zakat. Namun, masih banyak juga ummat Islam yang belum memahami pengertian zakat yang sesungguhnya. Sehingga kewajiban zakat ini seringkali terlupa. Lalu sebenarnya apa pengertian zakat yang sesungguhnya?

Disadur dari buku Fiqh Islam karya H. Sulaiman Radjid. Zakat menurut istilah agama Islam artinya

“kadar harta yang tertentu, yang diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan beberapa syarat”

Hukumnya: Zakat adalah salah satu rukun Islam yang lima, fardu ‘ain atas tiap-tiap orang yang cukup syarat-syaratnya. Zakat mulai diwajibkan pada tahun kedua hijriah.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
“Dirikanlah salat dan bayarkanlah zakat hartamu.” (An-Nisa: 103)

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
Ambillah dari harta mereka sedekah (zakat) untuk membersihkan mereka dan menghapuskan kesalahan mereka.” (At-Taubah: 103)

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 277)

Selain firman diatas, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa:
“Islam itu ditegakkan di atas 5 dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah, dan bahwasannya Nabi Muhammad itu utusan Allah, (2) mendirikan sholat 5 waktu, (3)membayar zakat, (4) mengerjakan ibadah haji ke Baitullah, (5) berpuasa dalam bulan Ramadan.” (SEPAKAT AHLI HADITS)

Pentingnya zakat juga diperkuat dengan ayat berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الأحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٣٤) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

“… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (At-Taubah 34-35)

Wallahua’lam bishawab

Disadur dari buku Fiqh Islam karya H. Sulaiman Rasjid