Pengelolaan harta bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang menentukan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mengapa demikian? Karena sebagian besar kehidupan kita berkaitan dengan pengelolaan harta, mulai dari merencanakan (planning), mencari (generating), dan membelanjakannya (spending).

Sebagian besar waktu kita digunakan untuk hal-hal yang terkait dengan harta ini. Misalnya, waktu yang kita gunakan untuk mencari harta (baca: rezeki) paling kurang 8 jam sehari. Di kota besar, durasi untuk berbinis dan bekerja bisa lebih dari 8 jam, bahkan bisa 10 hingga 12 jam. Kita juga memerlukan waktu yang cukup banyak pula untuk membelanjakan dan mengonsumsinya seperti belanja kebutuhan sehari-hari ke pasar, makan dan minum, beli bahan bakar untuk kendaraan, bayar ini dan itu, dan sebagainya.

Sementara waktu yang digunakan untuk hal-hal lain relatif sedikit. Misalnya, untuk beribadah seperti mengerjakan shalat 5 kali sehari semalam ‘hanya’ memakan waktu 30 menit. Belajar, baca buku, bercengkrama dengan keluarga, dan olah raga mungkin hanya dilakukan sesekali di sela-sela kesibukan mencari dan membelanjakan harta. Apalagi waktu yang tersedia harus terpangkas untuk keperluan tidur. Karena itu Islam mengatur unsur pokok dalam kehidupan manusia : agama, jiwa, akal, harta dan keturunan.

Kali ini kita membahas bagaimana Islam mengatur urusan sektor usaha atau bisnis. Panutan kita Nabi Muhammad telah memberi teladan bagaimana mengelola usaha itu berdasarkan adab atau akhlak yang baik. “Tidaklah aku diutus melainkan menyempurnakan akhlak yang mulia,” begitu kata nabi yang mulia itu. Berikut ini sekelumit adab berbisnis ala Rasulullah.

1. Menjadikan berbisnis sebagai ibadah

Cara berdagang Rasulullah yang pertama adalah menjadikan berdagang sebagai ibadah. Ibadah dalam islam tidak hanya sebatas ritual, seperti shalat, puasa, zakat, ataupun haji. Semua hal baik yang kita lakukan untuk mengharapkan ridha Allah juga merupakan ibadah. Berlaku juga untuk berdagang, apabila kita niatkan demi mengharapkan ridha Allah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Menjadikan berdagang sebagai ibadah dapat dilakukan apabila memenuhi syarat sebagai berikut :

- Ikhlas dalam berdagang hanya karena Allah, sehingga kita dapat senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Serta bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepada kita.

- Sesuai Syariat Rasulullah. Artinya segala risalah yang diajarkan beliau dalam perdagangan selalu kita jadikan acuan untuk beraktivitas.

- Bersungguh-sungguh, bekerja keras membuktikan bahwa apa yang kita kerjakan tidak hanya sebatas janji yang kita sampaikan. Insya Allah, dengan menjadikan pekerjaan setiap hamba sebagai Ibadah akan senantiasa memberikan dampak positif bagi rohani dan kualitas pekerjaan. Diharapkan mampu menjadikan hati ikhlas sehingga tidak ada penyesalan dalam melakukan suatu pekerjaan.

2. Jujur

Rasulullah saw. mendapatkan gelar Al Amin atau yang terpercaya. Dalam menjalankan bisnisnya, Rasulullah selalu mengutamakan kejujuran. Pada waktu zaman Rasulullah berdagang, Rasul mendapatkan barang dagangan dari saudagar yang bernama Khadijah, yang kemudian menjadi istri dari Nabi Muhammad terpikat dengan kejujurannya. Nabi Muhammad tidak hanya jujur kepada rekan bisnisnya, tetapi juga kepada para pelanggannya. Rasulullah selalu menjelaskan apa adanya keunggulan dari barangnya dan juga kelemahan dari barangnya tersebut. Bahkan, kejujuran dari Rasulullah itulah yang menjadi ciri khas atau brand dari bisnisnya tersebut. Banyak orang yang tertarik dengan bisnis Rasulullah karena kejujurannya. Jadi kalau ditanya apa yang menjadi keunggulan dari bisnis Rasulullah, adalah kejujurannya. Sebagai pembeli, kita tentu akan memilih pedagang yang sudah terkenal jujur, karena merasa aman dan tidak akan ditipu.

3. Sopan santun dan hormati pelanggan

Rasulullah menganggap semua pelanggannya adalah saudaranya. Seperti yang dikemukakan oleh Rasulullah, “Sayangilah saudaramu layaknya menyayangi dirimu sendiri.” Konsumen adalah raja, selalu perlakukan konsumen Anda dengan baik, sopan santun dan selalu hormati pelanggan. Rasulullah juga menganggap segala keuntungan yang didapat adalah hadiah dari usaha kita. Ketika seseorang seseorang terbantukan dengan produk yang Anda jual, itulah seharusnya inti dari berbisnis ala Rasulullah.

4. Tepati janji

Rasulullah dalam berdagang selalu menjaga kepercayaan pelanggan, di antaranya adalah selalu menepati janji. Beberapa pelanggan yang meminta barang atau memesan barang selalu ditepati janjinya oleh Rasulullah. Nabi Muhammad saw. selalu mengedepankan tanggung jawab kepada pelanggan dan integritas yang tinggi. Barang-barang yang dipesan oleh pelanggan akan disiapkan dan dikirimkan tepat waktu oleh Rasulullah. Inilah yang juga harus Anda lakukan, ketika sudah ada perjanjian kepada partner atau pelanggan, usahakan Anda selalu menaatinya. Walaupun perjanjian tersebut tidak ada hitam diatas putih, Anda juga harus selalu menaati janji tersebut. Ingat, kepercayaan pelanggan bertahun-tahun yang hilang akan sulit didapatkan kembali.

5. Jangan jual produk yang buruk

Rasulullah selalu mengajarkan untuk memilah mana produk yang baik dan produk yang buruk. Bahkan Rasulullah tidak pernah menjual produk yang kualitasnya rendah atau tidak pantas dijual. Dengan begitu, Rasulullah dapat selalu menjaga mutu barang-barang yang dijualnya. Disamping itu, Rasulullah selalu mengelompokkan harga barang sesuai dengan kualitasnya. Harga barang yang kualitasnya baik akan dihargai lebih mahal dibandingkan dengan kualitas yang biasa saja. Dalam suatu kisah, Rasulullah pernah marah kepada seorang pedagang karena menyembunyikan jagung yang basah di antara jagung yang bagus. Jagung basah tersebut seharusnya diletakkan di atas karena pelanggan harus tahu. Trik ini sangat dihindari oleh Rasulullah karena bisa menipu pembeli.

6. Tidak boleh menjelekkan bisnis orang lain

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain” (Muttafaq alaihi). Itulah yang dikatakan oleh Rasulullah kepada pengikutnya. Karena prinsip berbisnis adalah memuaskan pelanggan, bukan mematikan bisnis orang lain. Anda tidak perlu juga mengatakan bahwa bisnis si A lebih jelek dari pada bisnis Anda sendiri. Anda harus menonjolkan kualitas produk Anda, dan biarkan pelanggan yang menilai. Karena rezeki sudah ada yang mengatur.

7. Membayar upah para pekerja secara tepat waktu

“Berikanlah upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya.” Itulah yang pesan Rasulullah. Sebelum kering keringatnya adalah jangan menunda-nunda gaji atau upah karyawan. Ketika Anda menggaji karyawan setiap tanggal 25, usahakan selalu tepat waktu. Dan pembayaran upah atau gaji harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

*Sumber : Majalah al Falah Edisi 357 Desember 2017

RECENT ARTICLES