Musim hujan pada 2017/2018 ini maju dari waktu normalnya dan diperkirakan akan lebih basah dari kondisi normalnya. Karena, adanya badai La Nina dengan intensitas lemah. Demikian menurut hasil analisis sejumlah pakar. Seolah hal ini menginformasi kecenderungan ini muncul bencana badai angin siklon Cempaka yang banyak menerpa pesisir pantai selatan Jawa Timur (Banyuwangi & Pacitan) dan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan korban jiwa yang relatif banyak dan dampak yang ditimbulkan berupa kerugian materi yang cukup signifikan. Ini disusul badai siklon Dahlia tidak yang menerjang pesisir utara Indonesia (Lampung , Sumatera dan Aceh) dan daerah lainnya.

 

Menurut Abdul Hamid, Supervisor Pusdalops Penangulangan Bencana (PB) Jawa Timur, sesungguhnya bencana alam yang terjadi ini selalu didahului dengan tanda-tanda. “Tuhan tidaklah begitu saja menurunkan bencana begitu saja. Selalu diawali dengan tanda-tanda. Nah,sebagai makhluk berakal manusia harus mampu membaca tanda-tanda ini,” jelas pria yang sangat berpengalaman dalam penanganan bencana di Jawa Timur ini.

Manusia harus mampu membaca ayat-ayat kauniyah (alam) dan ayat-ayat qauliyah (kitab Al Quran). Bukankah perintah yang pertama turun kepada tugas kenabian adalah iqra (membaca)? Ketika membaca ayat qauliyah kita akan mendapati tanda-tanda kerusakan moral manusia sehingga mengakibatkan bencana, selain juga kerusakan pada lingkungan.

Kejadian-kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini pada hakikatnya telah menimpa pada umat-umat terdahulu. Inilah urgensi bagi kita bagaimana bencana itu terjadi dan apa hikmah yang terkandung dalam bencana itu. Kita bisa memetakan bencana apa dan sebab apa bencana itu yang digambarkan dalam Al Quran (diolah dari berbagai sumber).

Kaum Nabi Nuh & Banjir

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS. Al Ankabut 14).

Kaum Ad dan Angin Kencang Disertai Guruh

Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS. Attaubah 70, Al Qamar 18, Fushshilat 13, An Najm 50, Qaaf 13).

Kaum Tsamud dan Gempa

Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan gempa kepada mereka (QS. Al Hijr 80, Huud 68, Qaaf 12).

Kaum Sodom dan Gempa-Hujan Batu

Umat Nabi Luth di negeri Sodom terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Kaum Madyan dan suara keras & awan panas

Nabi Syuaib diutus kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi timbangan. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS. At Taubah 70, Al Hijr 78, Thaaha 40, dan Al Hajj 44).

Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS Al Hijr 78, AS Syu’araa 176, Shaad 13, Qaaf 14).

Firaun & Gelombang Laut

Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah walau jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (QS. Al Baqarah 50 dan Yunus 92).

Ashab Al-Qaryah (Yasin) & Suara Keras

Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah (sebagian ahli menyebut wilayah Turki saat ini). Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS. Yaasiin: 13).

Kaum Saba dan Banjir Besar

Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba (kini wilayah Yaman). Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al Arim) (QS Saba: 15-19).

*Sumber : Majalah al Falah Edisi 358 Januari 2018

RECENT ARTICLES